Penerapan kode etik dan pelanggaran kode etik

download….

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Kode etik merupakan kontrol atau aturan yang di buat secara sistematik dan berdasarkan pada prinsip-prinsip moral yang ada dan pada saat dibutuhkan kode etik bisa difungsikan sebagai alat untuk memberikan sangsi terhadap  tindakan yang secara logika-rasional umum (common sense) dinilai menyimpang  dari aturan yang telah di tetapkan.

Karena pentingnya kode etik, maka untuk tetap menjamin terlindunginya hak-hak seseorang dengan demikian penulis merasa sangat penting untuk membahas lebih lanjut tentang penerapan kode etik dan pelanggaran kode etik mengingat semakin maraknya berbagai macam dalih yang di gunakan oleh seseorang profesional atau organisasi yang mempunyai profesi tertentu untuk mengambil keuntungan yang lebih dengan tanpa memperhatikan kode etik yang berlaku.

1.2 TUJUAN DAN MANFAAT

1.    Tujuan penulisan makalah ini adalah :

a)      Sebagai pembuka pengetahuan bahwa semua profesi pasti mempunyai kode etik yang harus ditaati

b)      Memberikan pemahaman tentang  pentingnya kode etik.

2.    Manfaat penulisan makalah ini adalah :

a)      sebagai pengingat bahwa semua pekerjaan atau profesi harus selalu memenuhi etika yang berlaku.

Sebagai pengetahuan baru bagi pembaca dan penulis

mengutamakan profesionalismenya dari pada untuk mendapatkan keuntungan pribadi sehingga tidak ada pihak yang merasa menjadi korban atau merasa di rugikan.

Manfaat Penerapan Kode Etik Diantaranya

  1. Kode etik merupakan suatu cara untuk memperbaiki iklim organisasional Sehingga individu-individu dapat berperilaku secara etis.
  2. Kontrol etis diperlukan karena sistem legal dan pasar tidak cukup mampu mengarahkan perilaku organisasi untuk mempertimbangkan dampak moral dalam Setiap keputusan bisnisnya.
  3. Perusahan memerlukan kode etik untuk menentukan status bisnis sebagai sebuah profesi, dimana kode etik merupakan salah satu penandanya.
  4. Kode etik dapat juga dipandang sebagai upaya menginstitusionalisasikan moral dan nilai-nilai pendiri perusahaan, sehingga kode etik tersebut menjadi bagian dari budaya perusahaan dan membantu sosialisasi individu baru dalam memasuki budaya tersebut.

2.1 PELANGGARAN KODE ETIK

Pelangaran kode etik dapat terjadi di profesi manapun tak terkecuali Dalam bidang komputer, contohnya orang-orang yang menyalahgunakan profesinya dengan cara penipuan kartu kredit, cek, kejahatan dalam bidang komputer lainnya yang biasa disebut Cracker dan bukan Hacker, sebab Hacker adalah Membangun sedangkan Cracker Merusak. Hal ini terbukti bahwa Indonesia merupakan kejahatan komputer di dunia diurutan 2 setelah Ukraine. Maka dari itu banyak orang yang mempunyai profesi tetapi tidak tahu ataupun tidak sadar bahwa ada kode Etik tertentu dalam profesi yang mereka miliki, dan mereka tidak lagi bertujuan untuk menolong kepentingan masyarakat, tapi sebaliknya masyarakat merasa dirugikan oleh orang yang menyalahgunakan profesi.

Ada beberapa aspek yang dapat menyebabkan terjadinya pelangaran kode etik diantaranya:

1)      Aspek Teknologi

Semua teknologi adalah pedang bermata dua, ia dapat digunakan untuk tujuan baik dan jahat. Contoh teknologi nuklir dapat memberikan sumber energi tetapi nuklir juga menghancurkan kota hirosima.

Seperti halnya juga teknologi kumputer, orang yang sudah memiliki keahlian dibidang computer bias membuat teknologi yang bermanfaat tetapi tidak jarang yang melakukan kejahatan.

2)      Aspek Hukum

Hukum untuk mengatur aktifitas di internet terutama yang berhubungan dengan kejahatan maya antara lain masih menjadi perdebatan. Ada dua pandangan menganai hal tersebut antara lain:

a)    Karakteristik aktiofitas di internet yang bersifat lintas batas sehingga tidak lagi tunduk pada batasan teritorial

b)   system hukum tradisiomal (The Existing Law) yang justru bertumpu pada batasan teritorial dianggap tidak cukup memadai untuk menjawab persoalan hukum yang muncul akibat aktifitas internet.

Dilema yang dihadapi oleh hukum tradisional dalam menghadapi fenomena cyberspace ini merupakan alas an utama perlunya membentuk satu regulasi yang cuku akomodatif terhadap fenomena baru yang muncul akibat pemanfaatan internet. Aturan hukum yang akan dibentuk itu harus diarahkan untuk memenuhi kebutuhan hukum (the legal needs) para pihak yang terlibat di dalam transaksi lewat internet.

Hukum harus diakui bahwa yang ada di Indonesia sering kali belum dapat menjangkau penyelesaian kasus kejahatan computer. Untuk itu diperlukan jaksa yang memiliki wawasan dan cara pandang yang luas mengenai cakupan teknologi yang melatar belakangi kasus tersebut. Sementara hukum di Indonesia itu masih memiliki kemampuan yang terbatas didalam penguasaan terhadap teknologi informasi.

3)      Aspek Pendidikan

Dalam kode etik hacker ada kepercayaan bahwa berbagi informasi adalah hal yang sangat baik dan berguna, dan sudah merupakan kewajiban (kode etik) bagi seorang hacker untuk membagi hasil penelitiannya dengan cara menulis kode yang open source dan memberikan fasilitas untuk mengakses informasi tersebut dan menggunakn peralatan pendukung apabila memungkinkan. Disini kita bisa melihat adanya proses pembelajaran.

Yang menarik dalam dunia haker yaitu terjadi strata atau tingkatan yang diberikan oleh komunitas hacker kepada seseorang karena kepiawaiannya bukan karena umur atau senioritasnya.

Untuk memperoleh pengakuan atau derajat seorang hacker mampu membuat program untuk ekploit kelemahan system menulis tutorial atau artikel aktif diskusi di mailing list atau membuat situs web, dsb.

4)      Aspek Ekonomi

Untuk merespon perkembangan di Amerika Serikat sebagai pioneer dalam pemanfaatan internet telah mengubah paradigma ekonominya yaitu paradigma ekonomi berbasis jasa (From a manufacturing based economy to service – based economy). Akan tetapi pemanfaatan tknologi yang tidak baik (adanya kejahatan didunia maya) bias mengakibatkan kerugian ekonomi yang tidak sedikit di Indonesia ada 109 kasus yang merupakan predikat PRAUD (Credit Card) korbannya 80% adalah warga AS.

5)      Aspek Sosial Budaya

Akibat yang sangat nyata adanya Cyber Crime terhadap kehidupan social budaya di Indonesia adalah ditolaknya setiap transasi di internet dengan menggunakan kartu kredit yang dikeluarkan oleh perbankan Indonesia. Masyarakat dunia telah percaya lagi dikarenakan banyak kasus credit card PRAUD yang dilakukan oleh netter asal Indonesia.

Pengaruh culture juga banyak mempengaruhi penegakan kode etik, seperti di indonesia yang orangnya biasa mencari sesuatu yang gratis, mudah dan murah, sehingga banyak yang lebih memilih sesuatu yang gratis, mudah dan murah walaupun itu salah. Ini menjadi tugas besar bagi kita untuk merubah budaya “salahpun tak apa yang penting murah”.

Cyber Crime : perbuatan melawan hukum yang dilakukan dengan menggunakan internet yang berbasis pada kecanggihan terhadap teknologi komputer dan telekomunikasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: